Rabu , 13 Desember 2017
iden

US-ASEAN Summit 15-16 Feb: “Jangan Ada Komitmen Tentang TPP”

Statement Pesan Rakyat Indonesia Untuk Jokowi

USASEAN Summit 1516 Feb: “Jangan Ada Komitmen Tentang TPP

Jakarta, 15 Februari 2016. Sekelompok organisasi masyarakat sipil Indonesia mendesak agar Presiden Joko  Widodo  tidak  membuat  komitmen  apapun  terhadap  TPP  dalam  pertemuan  US-ASEAN  Summit yang akan dilaksanakan pada 15-16 Februari di California, AS. Mereka juga mengingatkan agar Presiden tidak kembali membuat pernyataan politik yang akan merugikan Indonesia kedepannya.

Perjanjian TPP menuai banyak protes dari berbagai masyarakat belahan dunia, khususnya anggota TPP itu sendiri. Masyarakat Indonesia pun menilai bahwa Perjanjian TPP hanya akan lebih banyak mendulang kerugian   bagi   Indonesia   ketimbang   manfaatnya.   Seharusnya   Presiden   Jokowi   lebih   fokus   pada keberhasilan implementasi agenda pembangunan nasional, dan bukan pada TPP.

Selama  ini,  keberhasilan  Pemerintah  Indonesia  dalam  menjawab  berbagai  persoalan  pembangunan nasional  masih  dipertanyakan.  Misalnya,  implementasi  paket  kebijakan  terkait peningkatan  daya  saing, implementasi Nawacita, strategi pencapaian 17 agenda SDGs, maupun implementasi kedaulatan pangan.

Keberadaan TPP hanya akan menjadi ancaman bagi agenda prioritas pembangunan nasional yang telah dicanangkan Presiden Jokowi sebelumnya. Ada beberapa catatan kritis mengenai dampak TPP terhadap agenda pembangunan nasional, yaitu:

1.Ketentuan larangan Kandungan Lokal dalam TPP akan menghambat agenda hilirisasi industri  dalam  rencana  peningkatan  daya  saing  Indonesia,  khususnya  dalam  menghadapi

Masyarakat  Ekonomi  ASEAN  (MEA). Agenda  ini  mengharuskan  penggunaan  kandungan  lokal

hingga   persentase  tertentu,   seperti   dalam  kegiatan  pembangunan   infrastruktur,   Presiden  telah menginstruksikan  agar  setiap  proyek  infrastruktur  dapat  menyerap  produksi  semen,  besi,  dan  baja lokal sebesar 30% dari total kebutuhannya. Bahkan, kewajiban dalam Undang-undang Mineral dan Batubara  (Minerba)  yang  mengharuskan  industri  tambang  dan  mineral  menggunakan  kandungan lokal sebesar 30% dalam proses produksinya.

2.Standar TRIPsPlus dalam TPP akan melemahkan peran industri farmasi nasional dan semakin menjauhi akses masyarakat terhadap obat-obatan yang murah. Hal ini karena dengan monopoli  hak  Paten  obat-obatan  yang  saat  ini  didominasi  oleh  perusahaan  farmasi  multinasional pada  akhirnya  tidak  memungkinkan  Indonesia  memiliki  industri  farmasi  nasional  yang  mampu memproduksi  obat-obatan  dengan  harga  yang  terjangkau.  Apalagi,  hak  Paten  menjadi  salah  satu obyek  investasi  dalam  TPP  yang  dapat  menjadi  sengketa  investasi  antara  korporasi  multinasional dengan negara (Investor-State Dispute Settlement/ISDS).

3.Ketentuan Bab BUMN dalam TPP akan menggagalkan Road Map BUMN yang digagas oleh   Pemerintah   Indonesia. Hal   ini   karena,   TPP   mengharuskan   BUMN   tidak   diperlakukan istimewa dan harus diperlakukan sama dengan sektor bisnis swasta (non-discriminatory treatment) dalam kegiatan komersial seperti kegiatan pembelian atau penjualan barang ataupun jasa. Apalagi, pilar  Hilirisasi  dan  kandungan  lokal  dalam  Road  Map  BUMN  akan  dimentahkan  kembali  dengan aturan larangan kandungan lokal dalam TPP.

4.Ketentuan   Regulatory   Coherence   dala TPP   akan   melanggengkan   Kesenjangan Ekonomi dan bertentangan dengan pencapaian 17 agenda Pembangunan yang Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Hal ini karena, TPP akan mewajibkan Indonesia merevisi seluruh  peraturan  perundang-undangannya  dan  disesuaikan  dengan  ketentuan  TPP  yang  notabene lebih  pro  terhadap  investasi.  Padahal  untuk  menghapuskan  kesenjangan  (inequality),  tujuan  ke-10 dalam   SDGs   mengharuskan   negara   untuk   menghapuskan   kebijakan   yang   diskriminasi   dan mengadopsi   kebijakan   yang   dapat   mencapai   kesetaraan   khususnya   terkait   dengan   kebijakan keuangan, upah, dan perlindungan sosial. Selain itu, mekanisme ISDS yang ada di dalam TPP akan menghilangkan   ‘policy   space’   negara   untuk   dapat   membuat   kebijakan   yang   pro   terhadap kepentingan masyarakat miskin.

5.Pembukaan  akses  pasar  barang  dalam  TPP  akan  mematikan  sektor  usaha  mikro Indonesia. Hal  ini  karena  mudahnya  impor  akan  semakin  membuka  keran  impor,  yang  pada akhirnya sektor usaha mikro akan terus tergerus dengan kehadiran produk impor yang harganya lebih murah.  Apalagi  penerapan  prinsip  non-diskriminasi  dalam  TPP  hanya  akan  menempatkan  sektor usaha mikro pada posisi yang selalu dikalahkan ketika sektor mikro disejajarkan dengan sektor bisnis berskala besar.

6.Ketentuan    perlindungan    varietas    tanaman    dan    paten    di    dalam    TPP    akan menghilangkan  kedaulatan  petani  Indonesia  terhadap  benih. TPP  mengharuskan  negara  pihak masuk  ke  dalam  UPOV  1991  (International  Union  for  the  Protection  of  New  Varieties  of  Plant 1991).   Konvensi   UPOV   tidak   mengakomodasi   hak-hak   petani   atas   benih,   melarang   adanya pertukaran benih, sesuatu praktek yang lazim dilakukan diantara para petani. Sistem ini juga dibuat untuk   mengakomodasi   industri   benih.   Sehingga   dengan   ketentuan   ini   Petani   Indonesia   akan kehilangan  hak  atas  benih  yang  telah  dimilikinya  sejak  turun-temurun,  dan  sekaligus  mendorong komersialisasi benih dan konsentrasi kepemilikan pada perusahaan besar dan multinasional.

7.Ketentuan  perlindungan  investasi  di  dalam  TPP  akan  mendorong  Negara  dibawah kontrol korporasi multinasional. Perjanjian TPP mengatur mengenai mekanisme ISDS dan standar perlindungan terhadap investasi asing yang wajib dilakukan oleh Negara. Mekanisme ISDS adalah mekanisme yang dapat digunakan oleh investor asing untuk menggugat Indonesia akibat penerapan kebijakan yang dianggap merugikannya. Hal ini tentunya berdampak terhadap ‘Policy Space’ yang dimiliki   oleh   Negara.   Sehingga   fungsi   negara   dalam   membuat   kebijakan   untuk   melindungi kepentingan publik dan melindungi hak-hak rakyat menjadi ‘tersandera’. Kedepan Bisa dipastikan kebijakan  publik  yang  bertentangan  dengan  kepentingan  investor  akan  diabaikan.  Kemajuan  dan pembangunan industrialisasi nasional yang berbasis pada usaha rakyat akan semakin terhambat, dan terus mengarah pada era de-industrialisasi. Terlebih, perlindungan hak-hak rakyat oleh Negara akan semakin hilang atas nama investasi.

Dari catatan kritis diatas, Presiden Jokowi seharusnya tidak mendorong Indonesia masuk ke dalam TPP. Apalagi,  pasca  penandatanganan  pada  4  Februari  2016,  hingga  saat  ini  Perjanjian  TPP  belum  juga diratifikasi  oleh  ke-12  negara  anggotanya  dan  belum  berlaku  serta  mengikat.  Penolakan  masyarakat terhadap TPP di 12 negara anggotanya menyebabkan  proses ratifikasi belum terlaksana. Bahkan di AS sendiri Anggota Kongres AS berposisi untuk tidak melakukan ratifikasi terhadap TPP karena perjanjian ini dianggap bermasalah.

Melihat   hal   ini,   maka   Presiden   Jokowi   tidak   perlu   mengeluarkan   keputusan   apapun   mengenai bergabungnya Indonesia ke dalam TPP di dalam US-ASEAN Summit.

Maka, kami mendesak kepada Bapak Presiden Jokowi agar dalam pertemuan US-ASEAN Summit yang dilaksanakan pada 15-16 untuk:

Tidak membuat komitmen apapun untuk Indonesia terkait TPP.

Menolak keras desakan Presiden Barrack Obama untuk bergabung ke TPP.

Fokus  pada  bentuk  kerjasama  yang  mampu  mendorong  dan  mendukung  tujuan

pembangunan nasional Indonesia, khususnya penguatan perekonomian rakyat kecil, seperti petani, nelayan, buruh, pedagang kecil dan informal, dan perempuan usaha kecil.

1

2

3

4

6

At-db2Hxd5Gk53TYox7SJn3qD-dLDJIlOv8QzIzvCI_d

 

Check Also

The Appealed Of Indonesia Failed, Civil Societies Urge Government To Withdraw The WTO Commitment

Jakarta, 20 November 2017. Indonesian Civil Society Group consisting of Indonesia for Global Justice (IGJ), …

Tinggalkan Balasan