Jumat , 20 Oktober 2017
iden

Inisiatif Trade in Value-Added (TiVA) dalam WTO

Oleh : Rika Febriani

Inisiatif nilai tambah perdagangan (TiVa) adalah suatu inisiatif yang menawarkan pandangan baru mengenai bagaimana rantai nilai perdagangan global dapat berdampak kepada hubungan perdagangan dan aktifitas bisnis lainnya. Inisiatif ini bertujuan untuk memutus ukuran konvensional dalam perdagangan, dengan catatan arus barang dan jasa dapat melewati batas wilayah antar Negara. Pola perdagangan modern sangat berbeda dengan perdagangan tradisional, dimana perdagangan modern telah melibatkan pertukaran antar wilayah tidak hanya ekspor kepada satu Negara kemudian dapat berhenti, tetapi terus berlanjut yang bisa mencapai beberapa negara dan itu terjadi baik dalam perdagangan barang maupun jasa.

Contohnya : sebuah motor yang diekspor oleh Negara A akan membutuhkan berbagai komponen seperti : mesin, tempat duduk dsb yang berasal dari Negara B. Negara B juga mendapat impor bahan seperti : besi,karet dsb untuk menghasilkan bagian yang diekspor ke Negara A. Inisiatif TiVa ini berguna untuk melacak komponen bahan dasar dari masing-masing Negara dan industri dalam rantai produksi dan mengalokasikan nilai tambah tersebut kepada Negara dan industry asal.
Release pertama yang dibuat oleh OECD-WTO TiVA database mewakili indikator perdagangan untuk 40 negara (Semua Negara OECD, Brazil, China,India,Indonesia,Federasi Rusia dan Afrika Selatan) yang mencakup tahun 2005,2008 dan 2009 yang diturunkan ke dalam 18 bagian industry. Indikator di dalam database mencakup :
  • Dekomposisi dari ekspor kotor oleh industry menjadi bahan domestic maupun asing.
  • Jasa yang terdiri dari ekspor kotor oleh industry pengekspor (yang diturunkan dari asal domestic/asing)
  • Neraca perdagangan bilateral yang berdasarkan arus atau nilai tambah yang terdapat di dalam permintaan dalam negeri
  • Import tingkat lanjut yang dimasukkan di dalam ekspor.
Kunci utama dan dampak kebijakan TiVa :

  • Daya saing bisnis dan kinerja ekspor semakin terikat dengan integrasi negara ke dalam rantai produksi global dan kemauan membuka pasar untuk impor yang lebih luas.
  • Biaya perlindungan lebih tinggi dari apa yang secara umum dipahami oleh masyarakat: tariff bersifat kumulatif ketika input lebih lanjut diperdagangkan melintasi perbatasan beberapa kali. Perlindungan tindakan terhadap impor produk tingkat lanjut meningkatkan biaya produksi dan mengurangi daya saing suatu negara danposisinya di rantai pasokan di tingkat regional dan global.
  • Kebijakan harus mengarahkan halangan pada semua poin dari rantai nilai dan mempromosikan berbagai standard dan persyaratan sertifikasi, melalui perjanjian multilateral yang mencakup tidak hanya barang tetapi juga jasa,investasi, kompetisi, kekayaan intelektual dan perpindahan pekerja secara sementara.
Diantara beberapa temuan utama adalah :

  • Surplus perdagangan bilateral China dengan Amerika menyusut sampai 25% dalam dasar nilai tambah, memperlihatkan kandungan dasar asing tingkat tinggi dalam ekspor China.
  • Sepertiga dari total nilai kendaraan motor yang dikespor dari Jerman sebenarnya berasal dari Negara lain, sementara hampir 40% dari total nilai ekspor elektronik China berasal dari Negara lain.
  • Sementara itu data perdagangan konvensional memperlihatkan bahwa jasa mewakili kurang dari seperempat dari total perdagangan, dalam basis nilai tambah perdagangan jasa rata-rata mencapai 50% dari Negara pengekspor dalam OECD, dan jauh diatas Amerika Serikat,Inggris,Perancis,Jerman dan Itali dalam jumlah yang besar karena jasa memberikan nilai tambah secara signifikan terhadap output produksi.
  • Surplus perdagangan bilateral dari eksportir komoditas utama seperti : Australia, Brazil dan Kanada dengan partner dagang utama menyusut dalam basis nilai tambah, karena bahan dasarnya merupakan proses lanjutan oleh partner dagang dan kemudian di ekspor kembali- dimana Negara-Negara ini mungkin “memindahkan” rantai perdagangan.

Indikator baru dari nilai tambah perdagangan berasal dari tabel input-output global yang dibuat oleh OECD, yang menggambarkan interaksi antara industri dan konsumen untuk ekonomi 58 negara anggota,mencerminkan 95% dari output global.

Inisiatif TiVa ini sesungguhnya adalah pemisahan produksi oleh Negara maju dan berkembang dan bagaimana dampaknya terhadap rantai perdagangan secara global.Permasalahan bisa muncul ketika apakah industri skala kecil dan menengah di Negara berkembang dapat masuk pada pasar internasional? Sementara banyak masalah yang ada sekarang ini adalah ketika industry skala kecil dan menengah terhambat dengan masalah pembiayan sehingga tidak dapat melakukan ekspor secara langsung. Dan ketika mereka dapat melakukan ekspor, apakah keuntungan kemudian didapatkan oleh industry skala kecil dan menengah ini?  Pada akhirnya inisiatif ini hanya akan menguntungkan Negara Maju karena mereka kuat dalam berkompetisi dan merugikan Negara Berkembang.

Sumber :
http://www.oecd.org/trade/valueadded

Check Also

Kekhawatiran Anggota WTO Terhadap Persyaratan Muatan Lokal

  26 Januari 2017. Pertemuan komite Trade-Related Investment Measures (TRIMS) WTO yang dilaksanakan pada 17 …

Tinggalkan Balasan