Selasa , 25 Juli 2017
iden

Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) Disepakati Final Akhir Tahun 2016

Enam belas negara anggota RCEP telah menyekapai negosiasi RCEP akan diselesaikan sebelum tahun 2017. Percepatan kesepakatan dihasilakan dari pandangan masing-masing anggota RECP terhadap upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi USA dan Rusia serta untuk meminimalisir dampak pasca keluarnya Inggris dari Eropa.

Hal tersebut terungkap dalam pertemuan setingkat menteri ekonomi di Laos  pada 3-6 Agustus yang lalu. Menteri perdagangan Thailand menyatakan “Asean dan 6 negara yang menjadi patnernya- China, Korea Selatan, Australia, New Zealand, India, Jepang – akan menyelesaikan RCEP pada ahkir tahun ini”[1].

Negara-negara anggota Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) berkomitmen untuk mencapai perjanjian kerja sama ekonomi yang modern, komprehensif dan berkualitas tinggi serta saling menguntungkan. Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional, Iman Pambagiyo, yang mewakili Menteri Perdagangan Indonesia menjelaskan pertemuan kali ini penting bagi semua negara anggota RCEP untuk menyelesaikan negosiasi RCEP pada akhir 2016 yang dimandatkan oleh Kepala Negara RCEP pada November 2015[2].

RCEP yang beranggotakan 16 negara (Asean+6), merupakan bentuk FTA/block perdagangan terbesar di Dunia, karena mencakup 3,35 miliyar atau 50% lebih dari total penduduk dunia serta 29% lebih dari total PDB dunia.

Publik tidak banyak yang tahu apa isi perjanjian yang sedang dirundingkan. Namun, ketika Wikileaks mempublikasikan hasil bocoran teks perundingan yang didapat, terbongkarlah satu bab tentang Investasi. Ternyata, isinya serupa dengan Perjanjian Trans-Pacific Partnership (TPP) yang kontroversial. Bab investasi dalam RCEP mengatur hal serupa dalam TPP mengenai mekanisme Gugatan Investor Asing Terhadap Negara atau dikenal dengan Investor State Dispute Settlement (ISDS).

Jika RCEP benar-benar selesai pada akhir tahun 2016, ini merupakan kado kesepakatan FTA pertama dalam pemerintahan Jokowi-JK kepada rakyat Indonesia.

Catatan Indonesia for Global Justice, kerjasama ekonomi lewat model perdagangan bebas dengan negara-negara Asean tidak memberi dampak yang sangat siginifikan terhadap nilai perdagangan Indonesia. Hal ini mengingat bahwa selama ini nilai perdagangan Indonesia justru lebih banyak terjadi dengan negara-negara di luar Asean yaitu sebesar 70% dari total nilai perdagangan. Sementara dengan negara-negara Asean hanya 30%.

Kecilnya nilai perdagangan Indonesia dengan negara-negara Asean tersebut disebabkan oleh karakter barang yang dihasilkan oleh negara-negara di ASEAN yang mempunyai relatif semuanya sama, sehingga tidak ada nilai complimentary-nya.

Sebaliknya, ekspor Indonesia justru banyak mengalir ke negara-negara selatan, seperti Afghanistan, Papua Nugini, Tanzania, Madagaskar, Fiji, dan Zambia, terus meningkat dari tahun ke tahun yang didominasi komoditas pertanian (benih, pupuk, obat-obatan, serta vaksin ternak), alat-alat pertanian (traktor, alat pengolah, dan pengering).

Menurut perhitungan International Trade Analysis and Policy Studies (ITAPS) Institute Pertanian Bogor, Indonesia bakal merugi hingga 253 juta dolar AS per tahun dari perdagangan barang jika bergabung dengan RCEP[3].

Disusun oleh:

Suliadi, M.A

Program & Research Officer

Indonesia for Global Justice

Email: Zulieynew@gmail.com

[1] http://www.nationmultimedia.com/business/RCEP-members-to-finalise-pact-before-year-end-30292470.html

[2] http://ekonomi.metrotvnews.com/globals/DkqJZ08K-rcep-sepakat-bangun-kerja-sama-ekonomi-komprehensif

[3] (http://dev.republika.co.id/berita/koran/opini-koran/15/11/19/ny1pw718-indonesia-antara-tpp-dan-rcep)

 

Check Also

Pemerintah Harus Mempertegas Posisi Tawar Isu E-Commerce Dalam RCEP

JAKARTA-Indonesia for Global Justice (IGJ) mendesak Pemerintah Indonesia untuk memiliki posisi tawar strategis terkait bab …

Tinggalkan Balasan