Senin , 25 September 2017
iden

G20 Jangan Hambat Pencapaian Ekonomi RI

Jakarta, (Analisa). Dorongan dan hasil pertemuan kelom­pok ekonomi utama G20 yang saat ini se­dang berlangsung di Hamburg, Jerman, di­ha­rapkan tidak sampai menghambat pen­capaian kebijakan ekonomi nasional Indonesia.

“Jangan sampai, reformasi kebijakan perdagangan dan investasi ini nantinya akan menghambat pencapaian paket kebijakan ekonomi Presiden Joko Widodo untuk me­ningkatkan daya saing nasional,” kata Di­rek­tur Eksekutif Indonesia for Global Justice (IGJ) Rachmi Hertanti di Jakarta, Ka­mis (6/7).

Menurutnya, dorongan G20 untuk men­disiplinkan sejumlah regulasi domestik untuk selaras dengan kebijakan perdagang­an dan investasi internasional akan semakin mempersempit ruang kebijakan Pemerintah Indonesia.

Semakin sempitnya ruang kebijakan itu juga terkait dengan pene­gakan mekanisme penyelesaian sengketa yang dapat membuat peran pemerintah pusat menjadi sama atau berada di bawah investor.

“Perlu diingat, Pemerintah Indonesia sudah diprotes dan digugat banyak negara akibat menerapkan kebijakan pelarangan ekspor konsentrat untuk memperkuat in­dus­tri hilir, persyaratan kandungan lokal, dan pembatasan impor di sektor tertentu,” jelasnya.

Untuk itu, IGJ menilai agenda G20 da­lam memerangi protek­sionisme melalui reformasi kebijakan perdagangan dan inves­tasi internasional harus disikapi secara hati-hati oleh pemerintah karena hal itu akan menjadi pukulan balik bagi Indonesia.

Di sisi lain, Pemerintah Indonesia diha­rapkan jangan sampai kehi­langan momentum terkait dengan perundingan Kese­pakat­an Kemitraan Ekonomi Komprehensif atau CEPA antara Indonesia dengan Uni Eropa.

“Pemerintah Indonesia perlu melan­jutkan negosiasi aktif dengan Uni Eropa perihal penerapan CEPA yang baru saja menyelesaikan negosiasi putaran keduanya pada Januari 2017. Indonesia perlu ber­gerak cepat apabila tidak ingin kehilangan momentum,” kata peneliti Center for Indonesia Policy Studies, Hizkia Respatiadi.

Menurut Hizkia, RI-Uni Eropa memang telah menyepakati kerangka acuan pada April 2016. Namun, masih banyak hal yang harus disepakati kedua belah pihak, terma­suk mengenai hambatan perda­gangan.

Perjanjian itu, ujarnya, sangat krusial untuk meningkatkan daya saing Indonesia di dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

“Saat hambatan perdagangan dalam MEA dikurangi, perusahaan-perusahaan yang berasal dari negara-negara Uni Eropa akan memilih untuk melakukan investasi di negara-negara ASEAN yang memiliki perjanjian CEPA dengan mereka,” jelasnya.

Sebelumnya, Pemerintah berupaya mempercepat penyelesaian perundingan kemitraan ekonomi komprehensif dengan Uni Eropa dalam kerangka Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) dengan melakukan pertemuan intersesi pada 6-9 Juni 2017 di Brussels, Belgia.

Direktur Jenderal Perundingan Perda­gangan Internasional Kementerian Perda­gang­an Iman Pambagyo mengatakan per­temuan intersesi tersebut dilakukan sebe­lum putaran ketiga perundingan IEU-CEPA yang akan berlangsung pada September 2017.

Iman mengatakan selama pertemuan intersesi dilakukan pem­bicaraan intensif mengenai rancangan teks perjanjian pada beberapa sektor seperti perdagangan barang, ketentuan asal barang, perda­gangan jasa, investasi, Hak Kekayaan Intelek­tual,dan kerja sama ekonomi dan pening­katan kapasitas. (Ant)

http://harian.analisadaily.com/headline/news/g20-jangan-hambat-pencapaian-ekonomi-ri/373626/2017/07/07

Check Also

Izin Pertambangan I Freeport Inginkan Perjanjian Tertulis soal Stabilitas Fiskal dan Hukum

Pemerintah Tolak Tawaran Freeport Jaminan investasi bagi perusahaan tam­bang, termasuk Freeport, telah diakomodir dalam Peraturan …

Tinggalkan Balasan