Senin , 21 Agustus 2017
iden

Rachmi Hertanti: Jokowi Harus Tuntut Azevedo Selesaikan Isu Pertanian

Jakarta, GATRAnews– Indonesia for Global Justice (IGJ) menilai, kunjungan Dirjen WTO, Roberto Azevedo, ke Indonesia dalam rangka untuk memperkuat dukungan negara-negara Asia kepada dirinya dalam pemilihan Dirjen WTO pada Desember tahun ini.

Kedatangan Dirjen WTO ke Indonesia, merupakan bagian dari lawatannya ke berbagai negara-negara anggota berkembang dan negara terbelakang WTO. Seperti Afrika, Asia, Karibia, dan Amerika Selatan. Setelah Indonesia, tujuan selanjutnya adalah Malaysia.

Direktur Eksekutif IGJ, Rachmi Hertanti menyatakan,  kunjungan Dirjen WTO ini sangat kental dengan nuansa kepentingan pribadi Azevedo yang ingin terpilih lagi menjadi Dirjen WTO pada Desember 2016. Ia pun melihat bahwa seharusnya hal ini bisa dimanfaatkan oleh Presiden Jokowi untuk mendesakan tuntutan Indonesia terhadap isu pertanian dan cadangan publik yang belum tercapai di WTO.

“Presiden Jokowi harusnya bisa mendesakan kepentingan pertanian kita di WTO kepada Azevedo agar dapat segera dituntaskan. Karena selama menjadi Dirjen, Roberto Azevedo selalu membela kepentingan negara maju, khususnya Amerika Serikat, ” terang Rachmi di Jakarta, Rabu (13/4) .

Bahkan, lanjut Rachmi, tidak maksimal dalam memperjuangkan isu pertanian dalam beberapa perundingan KTM WTO baik di Bali pada 2013 maupun di Nairobi pada 2015 yang lalu.

Berdasarkan hasil monitoring IGJ selama dua putaran perundingan WTO di Bali dan Nairobi, rekam jejak kepemimpinan Roberto Azevedo di WTO sangat buruk dan sangat pro terhadap kepentingan negara maju ketimbang negara berkembang, seperti Indonesia.

Misalnya, Paket Bali yang dihasilkan pada KTM ke-9 di Bali tahun 2013 hanya menghasilkan kesepakatan Perjanjian Trade Facilitation yang merupakan kepentingan Negara Maju. Dan melupakan penyelesaian perundingan isu pertanian dan cadangan pangan publik yang sangat penting bagi negara berkembang.

Di Nairobi pun mengalami hal yang sama. Bahkan Azevedo mendorong terjadinya kesepakatan yang hendak meninggalkan penyelesaian Putaran Doha. Serta memaksakan masuknya isu Singapura ke dalam negosiasi WTO. Kepentingan Indonesia atas Special Product dan Special Safeguard Mechanisme pada isu pertanian pun tidak tercapai.

“Kita tidak butuh pujian Azevedo. Seharusnya pertemuan ini dipergunakan untuk mendesak Azevedo agar konsisten memperjuangkan kepentingan pertanian negara berkembang, khususnya Indonesia, di WTO,” tambahnya.

Roberto Azevedo merupakan Dirjen WTO terpilih sejak tahun 2013 yang Desember 2016 masa akhir jabatannya. WTO akan memulai pemilihan kembali untuk menentukan jabatan Dirjen WTO.


Reporter: Adit
Editor: Arief Prasetyo

Check Also

RCEP misses deadline, again

The Jakarta Post, 2 Aug 2017,  Stefani Ribka The world’s biggest economic pact, the Regional …

Tinggalkan Balasan